Lebih Dari Sekadar Mahkota: Duta Wisata Cebbing 2025 dan Misi Pemulihan Memori Kolektif
SAMPANG – Panggung itu akhirnya kembali menyala. Setelah empat tahun senyap, gemerlap lampu dan sorak penonton menyambut Grand Final Seleksi Duta Wisata Kacong Cebbing 2025, Minggu (16/11/2025). Namun, di balik kemeriahan itu, terselip sebuah misi yang lebih berat dari sekadar memperebutkan mahkota: memulihkan memori kolektif akan identitas wisata Sampang yang sempat terputus.
“Vakum sejak 2021 bukan hanya soal tertundanya acara. Ini tentang hilangnya satu suara yang konsisten mendengungkan keunikan Cebbing di khalayak,” ujar seorang panitia yang enggan disebutkan namanya. “Kami seperti kehilangan narator utama untuk cerita kami sendiri.”
Wakil Bupati Sampang, H. Ahmad Mahfudz, dalam sambutannya, menyentuh akar persoalan ini. Ia menyatakan bahwa jeda panjang itu adalah periode refleksi. “Kami sadar, duta wisata bukan sekadar wajah yang tersenyum di brosur. Ia adalah ‘jembatan hidup’ yang menghubungkan kekayaan lokal kami dengan rasa ingin tahu dunia. Kembalinya ajang ini adalah sinyal bahwa pemulihan itu tidak hanya fisik, tetapi juga kultural,” tegasnya.
Acara grand final pun dirancang bukan sebagai kontes biasa, melainkan sebagai sebuah pertunjukan komprehensif. Setiap penampilan seni dan musik yang mengisi acara sengaja dikurasi untuk menceritakan perjalanan Sampang dari masa vakum menuju kebangkitan.
“Malam ini bukan tentang siapa yang terhebat. Ini tentang siapa yang paling paham menjadi ‘penjaga cerita’ untuk Sampang pasca-vakum. Kami memilih duta yang bisa membawa Kacong dan Cebbing tidak hanya dikenang, tetapi juga dirindukan,” tambah Mahfudz.
Dengan demikian, pemilihan ini menandai lebih dari sekadar kelahiran duta wisata baru. Ini adalah babak baru di mana Sampang tak lagi hanya menjawab tantangan pemulihan, tetapi mulai merajut kembali narasi besar tentang jati diri pariwisatanya yang sempat terputus
2025-11-18